Friday, September 17, 2010

dari Yang Terlupakan

Siang hari yang terik di bulan Januari,saat membuka mata, aku melihat dunia baru. Sekelompok orang berembel-embel OSIS berkerumun di dekatku, mengamatiku seakan aku meteor yang baru jatuh dari luar angkasa. Sebagian dari mereka masih berunding mengenai tempat yang paling cocok untukku.


Aku tidak mendengarkan.


Aku menegadah ke atas, menyapa matahari, mengamati langit, mengundang kupu-kupu. Ah, dibawa kemanapun tak apa. Asalkan aku masih bisa merasakan kemilau hari melalui pucuk rantingku.


Aku menoleh dan mendapati remaja-remaja itu telah meninggalkan aku. Rupanya mereka sepakat untuk merawatku secara bergantian disini. Supaya semua kebagian tugas, kewajiban tidak timpang sebelah, berat sama dipikul ringan sama dijinjing, dan berbagai alasan klise lainnya yang biasa dikemukakan untuk saling melempar tanggungjawab. Ah, aku berpikir, semua orang toh akan memperhatikan aku ketika aku mekar nanti.


Tak berselang lama, aku dibawa ke tempat yang berbeda. Aku membuka mata dan berteriak. Dimana matahari? Dimana langit? Dimana kupu-kupu? Bukan, ini bukan mimpi. Beberapa orang berembel-embel OSIS masih lalu lalang di hadapanku. Tapi tak ada yang bisa menjawab.


Aku bertanya pada setangkai tanaman kurus di sebelahku, entah pohon apa namanya. Mengapa disini tidak ada matahari? Dan langit? Juga kupu-kupu?



Jangan bermimpi, jawabnya ketus. Matahari adalah keserakahan yang akan menyerap habis tenagamu. Langit adalah lukisan bisu yang hanya memandangmu dengan angkuh. Kupu-kupu hanyalah serangga nakal yang akan mengolokmu.


Aku terhenyak tak percaya, tidak! Sergahku. Matahari, langit, dan kupu-kupu adalah teman kita!


Pohon yang entah apa namanya tertawa sinis. Masihkan engkau mempercayai persahabatan? Yang diperlukan hanyalah kemampuan untuk bertahan dan hidup, menjadi yang terbaik kalau perlu. Bahkan orang-orang luar negeri sudah menyimpulkan dengan pasti, friend indeed is friend in need.


Rantingku terkulai, sekali lagi aku memandang sekelilingku. Orang-orang masih lalu lalang. Tapi aku kurang tinggi untuk dapat terlihat, kurang panjang untuk dapat menggapai, dan kurang manusiawi untuk berbicara. Di kejauhan, aku melihat sinar mentari. Ah, andai aku masih dapat bermandi cahaya itu.


Pohon di sebelahku, yang entah apa namanya tersenyum pilu. Satu-satunya cinta yang masih bisa kita pegang adalah sedikit kebanggaan karena kita ditempatkan di salah satu ruangan penting di bangunan ini, dimana orang-orang akan segan melalui kita. Mungkin karena kita penting, siapa yang tahu? Tapi setidaknya manusia masih memandang kita ketika mereka beranjak masuk, dengan kekaguman ataupun tidak sama sekali. Daripada menjadi tanaman yang ditempatkan di luar beranda tingkat tiga yang diakui sebagai penghias, namun lebih dianggap tempat sampah.


Aku mengerjapkan mataku. Berusaha mengerti dunia baru. Dalam pikiranku muncul dua buah pilihan. Protes, lantas mogok layaknya orang berdemo. Atau mengikuti keinginan tempat aku berdiri.

apa yang kira-kira dia pikirkan?




Setelah menghabiskan hari. Dan lebih banyak hari. Aku tersenyum dalam hati.


Tidakkah aku terlihat lebih baik? Tanyaku pada tanaman di sebelahku, entah pohon apa namanya. Sekarang aku tidak perlu matahari yang bersinar di atas ubun-ubunku. Aku bisa merasakan hangat cahayanya dari sini. Aku memang tidak dapat melihat langit biru, namun setidaknya aku tidak perlu merasakan gemuruh mendung yang mengamuk. Aku tidak lagi berjumpa dengan berbagai kupu-kupu cantik, tapi aku dapat mengikuti kisah manusia dari sudut pandangku. Mereka yang berhenti, maupun hanya sekedar lewat.


Pohon tak bernama di sebelahku mendengus, hanya idealismemu. Katanya dingin. Rupanya ia masih menikmati hidup dalam dunianya sendiri.


Aku tidak pernah bertemu teman pembicaraan semenarik engkau, kataku. Berkatmu, aku belajar banyak dari sini. Bagaimana bertahan, melihat sisi positif dari sesuatu, menjadi kuat, dan bertemu lebih banyak hal baru. Tapi bagaimanapun, aku masih menganggap persahabatan itu eksis, karena kau ada di sebelahku.


Jangan konyol, kilahnya dengan nada yang sedikit berbeda karena tersipu. Aku berada disini karena inilah tempatku.


Kalau begitu, aku pun tidak keberatan ditempatkan disini bersamamu. Mungkin ini juga adalah tempatku. Balasku dengan senyum.


Ah, hidup memang bukan hanya milikku. Aku hanya menjalani apa yang sudah direncanakan. Tapi apa yang bermakna justru bagaimana aku menghadapinya. Caraku bertahan.


Apakah kamu melihatku saat ini?

Aku telah menjadi kuat. Aku telah menjadi baru. Aku tetap eksis.

Dan aku telah membuktikan hidupku.









========= SPOILER========


cerita ini gue bikin waktu SMA.
Dlu salah satu Universitas ngadain event bertema global warming gitu, mereka memberi 1 pot tanaman (melati bla bla bla, klo nggak salah) kepada SMA-SMA di Jabodetabek. buat apa?
kita diharuskan ngurus tanaman itu selama kurang lebih 1,5 bulan, sampe tanggal X saat acara puncak event. nah di tanggal X ini si bunga harus dibawa ke Universitasnya, bersama dengan sebuah karangan bebas tentang si bunga ini, untuk dipamerkan di stand.
yap, ini adalah karangan SMA gue -gue doang tepatnya, karena tim OSIS yang dibangga-banggakan itu nggak ada yang sadar diri tentang detail yang diperlukan buat event ini *curcol*- tentang taneman melati yang dititip di tempat kami. dan yah, seperti yang bisa dilihat di gambar sebelumnya -walaupun itu sepertinya bunga mawar- taneman kami nggak keurus dan menyedihkan.
so terlepas dari nafsu gue untuk ngomel-ngomel soal ketiadaan tanggungjawab dll, gue membuat karangan ini. sangat sulit.
pesan apa sih yang bisa lo sampein dari sebuah taneman kurus kerontang yang nggak terurus? yang jelas nggak mungkin pesan 'peduli merawat tanaman minimal yang dititipkan padamu selama 1,5 bulan saja' kan?
tapi yah, jadi juga. dan gue cukup puas sama hasilnya. hahaha. semoga kalian jg bisa puas membacanya.
cheers!

No comments:

Post a Comment

 
Template by suckmylolly.com