Soare tidak pernah lelah berkunjung, dari satu tempat ke tempat yang lain. Ia suka mengamati perkembangan planet baru ini. Ia menikmati setiap sapaan roh alam yang lainnya. Soare berteman dengan empat orang roh bersaudara; Vara dan Vera, sepasang anak kembar yang masing-masing merupakan jelmaan musim panas dan musim semi, Tama yang pendiam, lebih tua dari si kembar yang merupakan perwujudan musim gugur, dan Iarna yang tertua, roh musim dingin. Semuanya merupakan roh alam yang memiliki kecantikan masing-masing, Soare menyukai mereka semua.
Suatu hari, ketika Soare sedang berkunjung ke kediaman Vara, roh musim panas itu menghalanginya pulang. ”Aku mencintaimu, Soare. Tetaplah bersamaku disini,” pintanya. Rupanya ia cemburu jika Soare pergi menemui roh-roh lainnya.
”Tapi sebentar lagi waktunya aku bertemu Tama.” Soare membalas dengan nada bingung, ”musimnya akan segera dimulai. Dan bagaimana dengan yang lainnya?”
”Soare,” panggil Vara, menggenggam tangan pemuda itu dengan erat, ”Tama tidak memerlukanmu. Ingatkah engkau bagaimana helai-helai daun cantik yang selalu tersenyum padamu berjatuhan karenanya? Apalagi Iarna, panas mataharimu hanya akan melelehkan es dan salju yang ia buat. Dan kamu tidak mungkin lupa kan, ketika Vera marah besar padamu karena membakar ladang bunga lilinya?”
Soare terdiam, hanya menatap Vara. Hatinya sedikit setuju dengan kata-kata Vara barusan, namun entah mengapa ia ragu.
”Soare, tempatmu disini bersamaku. Akulah musim panas yang akan memeluk kehangatanmu. Aku mencintaimu.” vara menutup kata-katanya dengan sebuah kecupan lembut.
Soare tidak mengerti apa itu cinta yang dibicarakan Vara. Namun ia merasa kata-kata Vara ada benarnya. Dari empat bersaudara itu, Vara lah yang paling menerimanya. Iarna selalu menyuruhnya menjauh supaya tidak meleleh, Tama lebih sering menyuruh angin-angin menemaninya bicara, dan Vera seringkali panik jika Soare berada terlalu dekat dengan bunga-bunga kesayangannya. Mungkin memang disitulah tempatnya, dimana ia memang diperlukan. Musim panas dan matahari.
Musim pun menjadi kacau balau karena Soare tidak kunjung datang. Tama kebingungan, daun-daun terus berguguran sampai tidak tersisa lagi dan akhirnya pohon-pohon mati. Iarna hampir-hampir membekukan seluruh hewan dan tumbuhan. Dan bunga-bunga kesayangan Vera tidak kunjung tumbuh. Bumi menjadi rusak.
Melihat kekacauan itu, dewi bumi sangat prihatin. Ia datang ke kediaman Vara, mendapati Soare disana. Musim panas pun terlihat mengenaskan, Soare terlalu lama disana sehingga hawa meningkat berkali lipat, bahkan semak belukar hampir terbakar karenanya. ”Apa yang kamu lakukan, Soare?” tanyanya dengan murka, ”seenaknya saja kamu bertindak sehingga musim menjadi kacau balau. Bumi yang baru lahir ini bisa segera mati karena tindakan gegabahmu!”
”Tapi dewi,” potong Soare, ”musim lain tidak memerlukan aku. Disinilah tempatku berada, matahari dan musim panas.”
Mendengar perkataan Soare, hati dewi menjadi remuk redam. Ia terbang ke angkasa, menyembunyikan butir-butir airmatanya. Di galaksi lepas, butir-butir airmata itu jatuh dan menjelma menjadi sebuah benda langit yang dingin dan kosong.
”Astaga, apa yang kulakukan,” pikir dewi, ”kesedihanku begitu berlarut sampai aku menciptakan benda langit yang sama dinginnya dengan airmataku.” Dewi pun berpikir, ia tidak ingin menghancurkan apapun yang ia ciptakan. Tak lama, terbesit sebuah akal di batinnya, diberinya roh pada benda langit baru itu.
Roh pucat yang anggun pun muncul di hadapan dewi, matanya sayu dan rambutnya gelap seperti angkasa. ”Dewi, mengapa engkau membangkitkanku, sebuah benda kecil tanpa guna. Lihatlah, permukaanku lebih dingin dari salju.” katanya sedih.
”Pergilah ke kediaman roh musim panas,” jawab Dewi, ”kamu adalah jawaban semua kekacauan ini.”
Roh baru itu pun pergi seperti yang diberitahu oleh dewi. Dan hatinya tiba-tiba menjadi hangat melihat sosok Soare yang tampan. Soare yang ramah tersenyum padanya, matanya tidak dapat lepas dari sosok pucat yang belum pernah dijumpainya itu.
”Aku ingin bicara dengan roh musim panas yang tinggal disini, apakah kamu yang kucari?” tanya roh baru itu dengan nada ragu-ragu.
”Bukan,” jawab Soare dengan cepat, ”aku adalah roh matahari, namaku Soare. Siapakah kamu? Aku telah berkunjung ke semua kediaman roh alam di galaksi, bahkan ke kediaman kakakku, Strea di angakasa jauh, tapi belum pernah sekalipun aku melihat sosokmu.”
Roh pucat itu terkejut mendengarnya. ”Dalam perjalananku kesini, banyak kudengar tentang roh matahari yang ramah dan tampan. Seluruh alam mencarimu, tidakkah kamu mendengar mereka?” ia balas bertanya.
Soare terdiam. Sudah cukup lama ia berada di kediaman Vara, tanpa sekalipun berkunjung ke tempat roh lain. Ia merasa tidak dibutuhkan oleh yang lain, hanya Vara saja, karena itulah ia berada disini.
”Aku adalah Luna, roh bulan.” roh pucat itu berkata lagi, ”aku terbentuk dari air mata dewi yang bersedih hati karena kepergianmu. Bolehkah aku tahu, mengapa engkau terus bediam disini, Soare?”
Hati Soare berdebar hanya dengan mendengar pertanyaan Luna yang lugu, berbagai perasaan dan pertanyaan berkecamuk dalam hatinya. Ia ingin memberi penjelasan pada Luna, tapi tidak tahu apa yang harus ia katakan. Di saat yang bersamaan, Vara muncul. Sepertinya ia mendengar pertanyaan Luna barusan, dengan cepat ia meraih elngan Soare dan menarik pemuda itu ke sisinya.
”Soare memang seharusnya berada disini,” belanya, ”lihatlah, apakah ada yang bisa menandingi keserasian musim panas dan matahari? Aku memerlukannya. Yang lain tidak. Karena itu ia tinggal disini bersamaku. Kami saling mencintai.”
Luna mengangkat wajah pucatnya. ”Pertama-tama,” ia memulai, ”aku akan menjawab pertanyaanmu tentang keserasian.” Luna menepis genggaman Vara pada lengan Voare. ”Bulan dan Matahari.”
”Bulan?” ulang Vara, merasa tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.
”Kamu membutuhkan Soare, aku tidak menyangkal itu. Tapi sudara-saudaramu pun membutuhkannya. Seluruh semesta membutuhkan matahari. Dan lihatlah keadaan musim yang kamu ciptakan, itu bukan musim panas melainkan musim terbakar. Apa yang kamu lakukan?” cecar Luna.
Kini ganti Luna yang menggenggam tangan Soare, menatap mata menyala pemuda itu dengan mata dingin yang sayu. ”Vara mencintaimu karena ia membutuhkanmu, sementara cintaku padamu, karena itulah aku hidup.” Luna berkata lagi, ”apakah kamu juga mencintai Vara?”
Soare menggaruk kepalanya, walaupun samasekali tidak ada rasa gatal dari sana. Rambutnya yang seperti percikan api melambai dengan indah. ”Aku rasa memang tidak ada yang lebih mengerti aku daripada Vara, tapi genggaman ini...” Soare menjawab, menggenggam balik tangan Luna, ”belum pernah aku menggenggam sesejuk ini. Belum ada yang melengkapi aku sepertimu, Luna.”
”Jadi, kamu akan menginggalkanku?” tanya Vara, butir airmata menggenang di matanya.
”Tidak Vara, tentu saja tidak. Luna telah membuka mataku. Cinta bukan melulu soal keserasian, namun bagaimana itu bisa saling melengkapi” Soare menjawab tanpa melepas pandangannya dari Luna, ”Kamu membutuhkanku, seperti saudaramu yang lain, dan untuk itu aku akan terus ada. Tapi cintaku, diriku seutuhnya kini hanya milik Luna.”
Belum sempat Vara meraung sedih, sosok dewi bumi muncul di hadapan mereka. Tersenyum penuh kemenangan. ”Dan hanya cinta yang akan menang dari cinta,” katanya tiba-tiba. ”Aku lega mendengar keputusanmu, Soare. Sangat bijak. Dan maafkan aku yang lalai, lupa melengkapimu dari awal.”
Soare memeluk Luna dengan erat, merasakan sejuk yang bercampur dari senyawa dingin dan hangat di antara mereka.
”Namun sayangnya,” dewi berkata lagi, ”aku tidak ingin membuat kesalahan yang sama. Jadi aku akan sedikit mengubah kalian.”
”Apa maksud dewi?” tanya Soare cemas.
![]() |
| Luna dan Soare |
”Kalian tidak bisa berubah dalam wujud roh lagi.” ujar dewi dengan nada tajam, ”Dan khusus untukmu, Soare, sedikit hadiah karena kelalaianmu bertugas. Aku akan memisahkanmu dari Luna.”
”Tapi..” Luna berusaha menyela.
Dewi meletakkan jarinya yang gemulai di bibir pucat Luna. ”Ssh, aku belum selesai berbicara. Aku telah berbicara dengan waktu, dan kami sepakat untuk membagi hari menjadi dua. Soare, maksudku, matahari akan menerangi bumi di siang hari, dan Bulan akan menerangi bumi di malam hari. Ah, kamu pasti bertanya-tanya bagaimana tubuhmu yang dingin bisa bersinar, bukan?” dewi melanjutkan, ”Sinar bulan adalah sinar matahari, Soare akan membagi sinarnya kepadamu di malam hari. Romantis bukan, menjadi sama seperti kekasihmu karena engkau memang hidup untuk itu.”
”Tapi kami begitu jauh terpisah waktu,” sela Soare, ”masakan kami tidak akan bertemu selama-lamanya?”
”Aku tidak sekejam itu, aku hanya sedikit memberi pencegahan.” sang dewi tersenyum, ”Dalam beberapa tahun, kalian akan bertemu. Waktu kalian sangat sempit, namun semesta milik kalian. Pada saat kalian bertemu, sebuah cincin akan tergambar di langit, dan bumi menjadi buta. Karena seperti yang kubilang, semesta milik kalian, hanya pada saat itu saja.”
Dan sosok pemuda tampan, roh pucat berambut gelap, semuanya sirna. Tinggal matahari dan bulan yang saling merindukan. Tutuplah matamu ketika sebuah cincin muncul di langit, karena semesta hanya milik mereka, hanya saat itu saja.


No comments:
Post a Comment