Tuesday, September 7, 2010

Telepon di Sore Hari

Hujan mengguyur atap terasku sore ini. Aku sendiri, ditemani secangkir teh hangat dan seekor kucing malas di kakiku, menikmati hujan. Aku bernyanyi pelan mengikuti alur musik alam di sekitarku. Jalanan rumahku sepi, ibu-ibu tetangga yang suka bergosip di sore hari tidak terlihat, masing-masing berteduh di rumahnya. Ah, aku lebih suka begini.

Dering handphone membagunkanku dari lamunanku. Semoga bukan dari kantor, pikirku cepat, rasanya tidak ingin merusak sore tenangku dengan urusan pekerjaan. Hatiku sedikit lega tidak mendapati nomor kantor tertera di layar handphoneku, namun nomor tak dikenal menggantikannya disana. Tidak ada perasaan curiga di dadaku.

“Halo?” jawabku.

“Apakah saya berbicara dengan Daniel?” tanya sebuah suara di ujung sana, seorang wanita yang tidak kukenal.

“Ya, saya sendiri. Ini siapa ya?” tanyaku blak-blakan.

“Ini aku, Calista. Kita dulu teman SMA. Kamu masih ingat?”

Aku memutar otakku perlahan ke belakang, sepertinya nama itu memang tidak asing di telingaku. Sudah berlalu hampir lima tahun sejak aku terakhir mengenakan seragam putih abu-abu, jadi aku harus berpikir agak keras. Maklum, aku bukanlah tipe orang pengingat segalanya.

“Kamu bekerja dimana sekarang?” tanya suara itu lagi, tidak menghiraukan aku yang masih berusaha mengingatnya. Mungkin baginya, diam berarti iya alias ingat.

“Di Bandung, sebagai programmer.” Aku menjawab sekenanya, masih berusaha mengingat-ingat dengan Calista mana aku sedang berbicara.

“Ehm...masih sering kontak dengan Julie?” tanyanya, dengan nada sedikit ragu-ragu.

Tiba-tiba aku terhenyak, ya, aku ingat Calista mana yang sedang meneleponku saat ini. Nama Julie langsung mengingatkanku padanya. Julie adalah mantan pacarku ketika SMA, bahkan sejak SMP aku sudah dekat dengannya. Nah ketika SMA dulu, aku berkenalan dengan Calista yang kebetulan sekelas denganku, dan kami tiba-tiba menjadi saling suka. Tapi di lain pihak, aku tidak ingin melepaskan Julie yang notabene juga merupakan cinta pertamaku. Singkatnya, Calista adalah selingkuhanku ketika SMA dulu.


“Daniel?” panggil Calista lagi.

“Apa? Oh ya, maaf, barusan ambil minum,” dustaku, “Julie ya, sudah lama nggak kontak. Sejak kuliah mungkin, toh dia juga jauh kan kuliahnya. Memangnya ada apa?”

“Oh begitu ya,” respon Calista sekenanya. Mugkin pertanyaan barusan memang hanya untuk memancingku supaya ingat dengannya, atau sekedar basa-basi saja. “Tapi dia sukses kan, menjadi sarjana kedokteran jebolan luar negeri?”

“Wah aku juga kurang tahu,” jawabku sambil mencari posisi duduk yang enak, agak heran dengan tujuan pembicaraan Calista yang sebenarnya, “Setelah lima tahun lebih, tiba-tiba saja kamu ngontak aku lagi, nanyain Julie pula. Memangnya ada apa?”

“Kamu masih aja blak-blakan seperti dulu ya, Niel.” Calista menyahut sambil sedikit terkekeh, “sebenarnya ada yang ingin aku omongin ke kamu.”

“Hah?” balasku sedikit kaget, “Seingatku, terakhir kamu marah besar padaku, bilang nggak mau kenal lagi, lalu menjauhiku sampai akhirnya bener-bener hilang kontak samasekali.”

“Ya memang benar,” jawab Calista, “aku dulu sangat kecewa nggak bisa jadi pacar kamu, bahkan setelah kamu putus dari Julie, setelah aku menahan sakit jadi selingkuhan selama setahun lebih.”

Aku melayangkan pikiranku pada masa itu sekali lagi, sedikit geli mengingat tingkahku yang playboy ketika muda. “Ya aku kan bilang ke kamu, aku nggak mau pilih siapa-siapa.” Kataku, sedikit berpikir apakah benar itu merupakan keputusan yang paling tepat saat itu, “itu udah lama banget, aku malah udah lupa kalau kamu nggak telepon aku.”

“Wah aku seneng denger kamu nggak kepikiran soal ini, sebelumnya sori ya, aku jadi ungkit-ungkit masalah lama kita.” Calista berkata lagi.

“Nggak apa-apa sih, lagipula emang salah aku kok waktu itu, maruk banget, hahaha.” Kelakarku, “wah aku curiga kamu telepon mau tagih maaf ya dari aku? Atau dulu aku pernah janji-janji ke kamu?”

Calista tertawa renyah. “Nggak kok, Niel. Kamu dulu udah minta maaf berkali-kali, Cuma aku nya aja yang ngga mau maafin kamu, udah terlanjur sakit hati banget.”

“Iya ya? Belum cukup ya dulu?” tanyaku lagi.

“Nggak, nggak, hehehe. Aku udah maafin kamu kok.” Calista menjawab, bisa kubayangkan senyum mengembang di wajah manisnya (kalau wajahnya masih sama dengan ketika SMA dulu). “Justru sekarang aku mau minta maaf.”

“Hah?” responku kaget sekaligus bingung.

“Iya, aku mau minta maaf, Niel. Kalau-kalau aku ada nyakitin hati kamu juga saat itu. Atau bikin kamu kecewa. Walaupun terlambat lima tahun, aku mau minta maaf.” Calista berkata lagi.

“Ah, nggak usah dipikirin lah, itu udah lama banget. Tadi aku bilang kan, kalau kamu nggak telepon, aku sendiri nggak akan inget. Hehehe.” Balasku, agak bingung.

“Iya aku denger kok, tapi melupakan sama memaafkan buat aku jauh lebih susah memaafkan. Makanya aku minta maaf.” Calista menjelaskan.

“Oh, kalau dipikir-pikir iya juga sih. Tapi secara gitu ya, Lis, udah lima tahun lewat. Aku juga udah nggak mikirin itu lagi kok.” Kataku lagi.

“Iya, butuh waktu lima tahun buat aku untuk maafin kamu secara tulus. Setelah aku bisa maafin kamu, aku sadar, mungkin sebenernya kamu pun ada sakit hati juga gara-gara aku yang nggak aku sadari. Jadi aku minta maaf.” Calista berkata lagi, kali ini lebih mendetail.

“Astaga, aku brengsek juga ya sampai kamu butuh waktu selama itu untuk maafin aku secara tulus.” Responku spontan. Berpikir betapa menderitanya Calista hanya gara-gara keegoisanku semata, padahal saat itu aku berpikir itulah jalan terbaik untuk kami bertiga.

“Ya brengsek sih,” balas Calista sambil tertawa pendek, “tapi semua orang pernah brengsek kok. Yang jadi masalah disini cuma perbedaan waktu aja. Mungkin buat kamu setahun atau dua tahun cukup untuk lupain masalah ini, tapi buat aku butuh lima tahun untuk bener-bener maafin kamu.”

“Maaf...” ucapku, spontan sekali lagi.

“Nggak apa-apa, kan udah aku bilang kalo aku udah maafin kamu dengan tulus. Kamu juga maafin aku kan?” Calista balas bertanya.

“Lho, kenapa aku harus maafin kamu? Yang salah kan aku...” komentarku, lagi-lagi spontan.

“Selama aku marah sama kamu, yang aku pikirkan Cuma bahwa kamu udah nyakitin aku. Bahwa aku sakit jadi selingkuhan, buat bilang sayang aja harus sembunyi-sembunyi, harus nahan cemburu selama kamu berduaan sama Julie. Aku selalu berpikir bahwa aku korban. Dalam pola pikir aku, Cuma aku sentral dari cerita ini. Bahwa aku tertindas, nggak dihargai, dan lain-lain.” Calista menjelaskan, “tapi sebenarnya ada banyak cara untuk melihat sesuatu. Kalau dibalik, kamu menjadi sentral ceritanya, mungkin justru kamu yang jadi korban. Bahwa kamu harus dihadapkan sama dua pilihan, jatuh cinta di waktu yang salah atau mempertahankan cinta pertama kamu, yang dua-duanya aku yakin sama pentingnya buat kamu. Kalau begitu keadaanya, aku juga salah, tau kamu udah punya pacar, tapi gegabah terus deketin kamu.”

“Dan lima tahun kamu mengikhlaskan semuanya itu?” tanyaku, kagum bercampur heran akan Calista.

“Bukan angka yang membanggakan, tapi ya. Aku bisa berkata dengan kepala tegak sekarang, setelah lima tahun berlalu, bahwa aku ikhlas. Dan aku memaafkan kamu.”

Terus terang, aku nggak begitu paham mengapa Calista begitu rajinnya memikirkan masalah ini hingga lima tahun berselang. Tapi di lain sisi, aku juga merasa malu, karena selama lima tahun yang sama, aku malah melupakan masalah itu. Padahal dua orang gadis kusakiti hatinya, dan otakku bukannya berpikir apakah aku tulus meminta maaf atau tidak, justru dengan congkaknya meyakini jalan yang kuambil seenak perutku sebagai jalan yang paling benar dari semuanya.

“Dan aku harap, Niel.” Calista kembali angkat bicara, “kamu bisa memaafkan diri kamu sendiri dengan tulus.”

“Ah Calista,” kataku pelan, “kamu berpikir seribu kali lebih dewasa dari aku. Walaupun banyak pencapaian yang bisa aku raih sejauh ini, aku merasa kerdil dan bodoh dalam menghadapi hati seseorang. Gimana aku bisa memaafkan diri aku sendiri? Seumur hidup pun rasanya nggak cukup.”

Calista tertawa, entah menertawakan kebodohanku atau karena merasa senang telah menyadarkanku dari kebutaan. “Aku kasih tau caranya, Niel.” Katanya ringan, “Cara termudah untuk memaafkan. Jangan pikirkan siapa yang salah, tapi pikirkan bagaimana ini akan berlalu, pikirkan bagaimana kamu akan tersenyum nantinya ketika kamu sudah ikhlas.”

Jika Calista berada di dekatku, sudah dipastikan aku akan memeluknya erat. Betapa besar hatinya, bahkan ketika ia sakit hati, ia masih berpikir untuk meminta maaf pada orang yang menyakitinya. Mungkin beberapa waktu lagi aku akan membangun paham agama baru, Calistaisme.

“Aku jadi malu sendiri, sepertinya pola pikirku nggak berkembang sejak lima tahun lalu. Hahaha.” Kelakarku.

“Ah ya nggak gitu, Niel. Setiap orang punya isi kepala masing-masing, jalan hidup dan kesibukan masing-masing. Bukan salahmu jika memang kamu nggak mikirin hal ini, mungkin kamu yang terlalu sibuk, atau aku yang terlalu kurang kerjaan. Hehehe.” Calista membalas dengan rendah hati.

Saat ini, aku merasa sangat beruntung terlahir sebagai makhluk sosial. Aku beruntung aku memiliki teman, terutama yang seperti Calista. Yang sepintas seperti tidak terlalu penting, tidak terlalu mencolok, namun sebenarnya memiliki andil juga dalam membantuku menjadi lebih dewasa. Aku dalam sekejap menjadi orang yang paling beruntung di dunia (setelah Calista, karena dia lebih beruntung bisa memiliki hati sebesar itu).

“Hmmm...Daniel?” panggil Calista kemudian, sepertinya dia bingung karena kutinggalkan beberapa saat untuk berpikir sendiri.

“Ya?”

“Sudah dulu ya, rasanya aku sudah lega setelah ngomong sama kamu. Setelah ini aku masih akan menelepon Julie.” Calista berkata lagi.

“Ah ya, terimakasih untuk semuanya, Calista. Bisa kamu kirimkan nomor Julie? Sepertinya aku juga perlu ngomong sama dia.”

“No problem,” jawab Calista sambil tertawa pelan, “See you.”

Satu lagi yang aku suka dari pembicaraan ini, Calista tidak berkata ‘bye’ seperti kebanyakan orang ketika menutup telepon. Sampai jumpa lagi, katanya, menandakan bahwa ini bukanlah perpisahan. Mendadak aku menjadi lebih peka, dan aku tidak menyesali hal itu.

Hujan semakin deras terdengar di atap teras rumahku. Kucing malasku mengeong-ngeong karena basah percik airnya. Tanpa kusadari, teh ku bahkan sudah menjadi dingin. Kupeluk si kucing malas, sembari mengangkat cangkir tehku, aku masuk ke dalam rumah. Cuaca hari ini boleh menjadi sedingin apapun, hujan boleh bernyanyi sekeras apapun, tapi hatiku telah menjadi hangat.




Untuk seorang sahabat yang kusakiti hatinya.
Walaupun aku bahkan tidak tahu mengapa kamu menjauh.
Dan aku menjadi marah karena kamu setega itu.
Tapi aku tahu kamu tersakiti olehku, apapun sebabnya.
Semoga kamu bisa memaafkan aku.
Persis setelah aku menulis cerita ini, ketika aku bisa memaafkan diriku sendiri.
Karena yang terpenting bukan siapa yang salah,
Melainkan bagaimana kita bisa mengikhlaskan kenyataannya :)


--------------------------------------------SPOILER----------------------------------------------------
gue suka banget cerita ini. bukan bermaksud membanggakan diri atau gimana, hahaha.
cuman inti dari ceritanya simpel banget, tapi ngena. memaafkan itu sulit coy, tapi menyadari kesalahan sendiri -kemudian memaafkannya- itu jauh lebih sulit.
Buat apa? jelas buat ketenangan hati. gue pribadi nggak bisa tenang kalo ada brantem-brantem gitu. apalagi klo belum ada yang berusaha menyelesaikan nya. and sometimes, some things are better kept in silence. ada beberapa kasus 'berantem' yang baiknya di skip aja daripada meledak dan tambah runyam (believe me, those kinda problem does exist). jadi kalo belum ikhlas, rasanya ngeganjel banget.
Tapi kalau ada diantara kalian yang memang tipe melupakan masalah dengan cepat atau memang bukan tipe orang yang mudah terusik hatinya, different case lah ya o_Oa
ada banyak situasai dimana gue merasa benciii banget sama orang, kesel setengah mati dll dll..
tapi ketika gue baca cerita ini *SENGGG* aduh gue jadi malu, rasanya gue tersindir oleh sisi lain diri gue sndiri. dan detik berikutnya gue akan berusaha untuk lebih ikhlas.
yah gue berharap dengan membaca cerita ini, it brings you good effects as much as it did to me :)
Oh iya, about the footnote...sedikit cerita, ternyata gue cuma salah paham, hahaha. suatu hari setelah perjuangan batin yang panjang, gue nyapa dia di YM, mau minta maaf ceritanya. dan ternyata dia bukan marah ke gue! smuanya cuma pikiran gue aja yang ngalor ngidul -___-a
but Thanks God, dengan gue yang sudah dalam kondisi 'siap menerima apapun karena saya sudah ikhlas' begitu dapet kabar begitu dari dia...tertawa bisa 2x lipat :D :D

peace, people v(^__^)v

No comments:

Post a Comment

 
Template by suckmylolly.com