Orang jaman dulu berpikir bumi ini datar seperti pizza, jika kita berjalan jauh hingga ke ujungnya, akan ada jurang tanpa dasar. Mengerikan bukan, membayangkan kamu sedang berjalan santai dan tanpa sadar telah mencapai ujung dunia, lalu jatuh ditelan gelapnya galaksi yang misterius. Yah, ujung atau ‘akhir’memang tidak pernah menyenangkan. Sangat melegakan ketika mengetahui bumi kita berbentuk lingkaran, tanpa awal dan akhir, tanpa sudut-sudut yang tajam.
Ya lingkaran, sebuah bentuk yang sempurna menurutku. Tidak ada sudut yang tajam, hanya lekukan yang sempurna, yang semuanya dimulai dan diakhiri di titik yang sama. Satu garis saja, menyatu. Sangat sulit menggambar sebuah lingkaran yang proporsional, terkadang sedikit melenceng dan hasilnya bukanlah sebuah lingkaran. Bukankah sulit mencapai kesempurnaan?
Miena tersenyum mendengar penjelasanku. “Ah nggak ada yang sempurna di dunia, bahkan bentuk geometri seperti jabaranmu barusan, Vanya !” katanya sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya seperti hendak mengusir nyamuk, “yah okelah, itu emang terdengar seperti sebuah kesempurnaan. Tapi pasti akan ada kekurangannya nanti.”
Aku mengernyitkan dahi, sedikit tidak percaya, “kalau begitu tunjukkan! dimana kekurangannya?”
“Yah aku bukan guru geometri sayangnya, bukan guru filsafat juga, aku mahasiswi fakultas hukum! Itu bukan bidangku, hahaha,” elak Meina sambil mengangkat bahu.
“Keahlianmu mendebat pendapat orang dan ngeles kalau sudah nggak nemu jalan keluar, Na.” Alice menyela, meletakkan buku yang sedang ia baca dan menatap Meina, “kalian ini abstrak banget sih. Jam makan siang kok ngomongin teori kesempurnaan lingkaran?”
“Abstrak…abstrak dari Hongkong!” makiku kesal, tak rela pemikiranku dipandang remeh, “ini bakal jadi pedoman nanti. Pasti ada sesuatu yg bisa dihubungin sama teoriku ini.”
“Jahh maksa!” cibir Meina.
“Persahabatan!” pekikku girang, “teoriku bisa mencerminkan sebuah pola persahabatan.”
“Oke, ini Cuma obrolan iseng di waktu senggang ya, nggak perlu terlalu kaku, Vanya. Bahasamu itu, astaga, kamu nggak lagi presentasi makalah kok!” decak Alice dengan raut wajah prihatin.
“Hahahaha iya-iya! Cuma sedikit bersemangat aja, Lice. Gini, menurutku cara orang bersahabat itu seperti lingkaran. Saling merengkuh dan melengkapi, menyelaraskan diri dalam satu garis yang apik. Tanpa sudut yang menyakitkan, tanpa jurang yang mengintip.” Aku menjelaskan.
Miena menatapku sesaat, lalu mendesah pelan. Alice mengangkat kedua alisnya. Aku rasa teoriku cukup diterima hari ini.
Aku menikmati persahabatan seperti segelas teh di sore hari. Menyegarkan! Aku memiliki banyak sahabat, sampai-sampai aku sering kewalahan jika sedang ingin curhat, karena begitu banyak orang yang ingin mendengarkanku. Buatku, sahabat laki-laki maupun perempuan sama menariknya. Sahabat laki-laki selalu tahu bagaimana melupakan rasa sakit hati dan bersenang-senang, sementara sahabat perempuan adalah pilihan yang paling ampuh untuk memotivasi.
Lingkaran sahabat,di pikiranku begitu indah. Bersama-sama dengan orang yang sepikiran, saling merengkuh tentu saja menyenangkan. Namun terbesit juga di pikiranku, kata-kata Miera kemarin,tidak ada yang sempurna. Bahkan lingkaran dalam pikiranku!
Radith membakar rokoknya sekali lagi, mungkin ini sudah batang yang ketiga sejak aku sampai di rumahnya. Wajahnya terlihat kesal dan aku tidak ingin mengacaukan suasana.
“Maaf ya sayang, acara kita jd kacau gara-gara mereka,” kata Radith pada akhirnya, diikuti sebuah desahan panjang.
“Ngga apa-apa kok,” tukasku cepat, masih setengah tidak mengerti dengan keadaan.
Hari ini aku dan pacarku, Radith memang janjian di rumahnya. Sudah sering aku menghabiskan akhir pekan di rumah Radith, berkumpul dengan teman-teman kami. Kadang-kadang kami bernyanyi sampai pagi, tidur bergeletakan di ruang tengah Radith, atau sekedar ngobrol-ngobrol ringan. Rencananya pun hari ini juga begitu.
Radith menghirup dalam-dalam rokoknya, lalu menatapku tajam. Pasti akan berbicara sesuatu yang penting, penjelasan yang tidak main-main mengapa suasana rumahnya begini lengang disaat seharusnya kami bersenang-senang bersama seperti biasanya.
“Hmmm gini sayang, ga berapa lama kemarin aku berantem sama Chris,” ia memulai dengan menyebutkan nama salah seorang teman kecilnya yang notabene, seharusnya sudah berada di sini bersama kami.
“Berantem gede?” tanyaku bingung.
“Harusnya ngga sih, ya kamu tau lah sayang, kadang kan suka beda pendapat trus bentrok-bentrok dikit gitu trus ceng-cengan. Ya awalnya sih cuma gitu aja, sampe…”
“Sampe apa?”
“Sampe aku jadian sama kamu.”
Ah! Tidak perlu dilanjutkan lagi rasanya dadaku sudah menjadi sesak. Aku dan Radith memang belum lama menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Sebelumnya kami juga bersahabat, sama seperti aku dan Chris dan teman-teman Radith lainnya. Dan kemudian aku lah yang menjadi sebab perpecahan mereka? Rasanya menyakitkan!
“Sayang?” suara Radith membangunkanku dari lamunanku.
“Mereka ga suka kita jadian?” tanyaku langsung pada inti permasalahannya.
Radith mengangguk lemah. Mungkin dia sama tidak mengertinya seperti aku. Atau bahkan lebih tidak mengerti. Sebelum ini kami baik-baik saja, aku dan teman-teman Radith juga menjalin hubungan baik. “Yah, mereka takut kamu cuma mainin aku,” lanjut Radith seakan bisa membaca pikiranku.
Aku mengernyitkan dahi. Terakhir aku mendengar alasan seperti itu adalah ketika aku kelas 3 SMP. Dan sekarang teman2 Radith yang usianya di atas 20 tahun menggunakan alasan serupa untuk menjauhi kami. Meninggalkan semua kenangan manis yang kami ukir bersama selama kami bersahabat.
Aku merasa dibohongi. Jika dari awal memang mereka tidak menyukaiku, tidak ingin aku menjalin hubungan lebih lanjut dengan Radith, unuk apa mereka bersikap baik padaku?
Aku memandang kertas gambar di hadapanku dengan lesu. Tidak ada inspirasi. Hampir satu jam aku hanya duduk tanpa bergerak di bangku kampus. Pikiranku melayang-layang, tidak terfokus pada tugas yang seharusnya aku kerjakan.
“Vany !” tegur Miena sembari menepuk pundakku, “bengong aja. Kesambet jin pohon baru tau rasa!”
Aku merengut, kembali memandangi kertas gambar yang kosong. Menghela nafas panjang. Meraih
pensil. Meletakkan pensil. Menghela nafas panjang lagi. Mengambil pensil lagi….
“Sadar bu!” seru Miena, kali ini mengguncang pundakku.
“Gambar apa ya, Na? Ga ada ide nih,” celotehku asal, mataku masih menerawang ke kejauhan, “disuruh gambar bentuk geometri.”
“Buset dah gambar bentuk geometri aja bingung, bentuk geometri kan itu-itu aja! Bulet lah, kotak lah, segitiga…”
Aku terhenyak mendengar kata-kata Miena. Ah iya, lingkaran! Bentuk kesempurnaan itu ! Segera aku meraih jangka dari kotak pensilku. Miena mengikuti gerakanku dari ujung matanya.
“Eh Na, kalo kaya begini masih bisa dibilang lingkaran ga sih?”
Alis Radith menyatu ketika aku menyodorkan gambarku padanya, tidak mengerti. Sebuah lingkaran yang tidak menyatu. Lingkaran dengan ujung, dengan titik awal dan akhir.
“Oke, ini gambarnya,” katanya pada akhirnya, “penjelasannya?”
“Persahabatan seperti lingkaran,” aku memulai, “awalnya aku kira sempurna. nggak penyok, nggak tajam sudutnya, Cuma punya satu garis yang nggak pernah putus.”
“Tapi aku sadar, membangun persahabatan itu seperti membuat lingkaran dengan jangka. Harus hati-hati, nggak bisa seenaknya mengarahkan pensilnya. Dan terkadang, hasilnya seperti gambarku ini, nggak sempurna, nggak menyatu, tapi tetap lingkaran.” Aku melanjutkan sambil menunjuk-nunjuk gambarku sendiri, “gambar ini persahabatan kita sekarang sama Chris dan yang lainnya.”
Radith meraih gambarku dan mencermatinya, lalu menatapku lagi, seperti meminta lanjutan dari penjelasanku dalam diam.
“Sayang, nggak ada yang sempurna di dunia ini,” aku berkata lagi, membetulkan posisi dudukku di hadapan Radith, “nggak terkecuali lingkaran ini, lingkaran persahabatan kita.”
“Aku tau,” potong Radith, “mungkin ketika aku lagi menggambar lingkaran ini, aku terpaku sama kamu jadi ngga konsen, akhirnya jangkanya melenceng dan lingkarannya ga utuh deh.”
“Ya nggak perlu diartikan se-harafiah itu sih,” tukasku, “maksutnya gini lho sayang, lingkaran ini tetep lingkaran, persahabatan ya tetep persahabatan. Tapi ya kita sama-sama sadar ini nggak utuh, ada hal-hal yang memang nggak bisa dibuat sejalan terus dalam persahabatan ini.”
Aku menunjuk bagian kosong lingkaran itu, dimana garisnya tidak tersambung seperti seharusnya. “Di satu sisi, ini memang nggak sempurna, mengecewakan malah. Tapi di sisi lain kita bisa lihat,” jelasku, “lingkaran ini bernafas.”
Radith memiringkan kepalanya, tampak berusaha mencerna kata-kataku barusan. Alisnya kembali menyatu.
“Ini lho,” aku meneruskan dengan sabar, “kalau lingkarannya tertutup, kesannya dia menutup diri. Kalau lingkaran ini warnanya merah, ya merah aja, nggak akan bercampur sama warna lain yang berada di luar batas garisnya. Tapi dengan lingkaran kita yang nggak sempurna ini, lihat, ada celah untuk bernafas. Ada ruang yang mempersilahkan warna lain untuk masuk dan ikut mewarnai lingkaran ini.”
Radith mengelus kepalaku, lalu tersenyum. “ini penghiburan buat kamu atau aku?” tanyanya.
“Sebenernya sih buat aku,” jawabku pilu, “karena aku merasa dibohongi sama persahabatan. Sama temen-temen kamu yang udah aku anggep sahabat aku sendiri. Tapi aku berpikir, kamu pasti mengalami hal yang lebih berat dari aku. Aku cuma mau kamu tau, kalo kamu nggak sendiri.”
“Dan nggak ada yang salah dari persahabatan yang nggak berjalan sesuai harapan, karena mungkin itu Cuma supaya warna baru masuk,” aku berkata lagi, ganti mengelus rambut Radith, “semuanya akan berbeda sekarang. Tapi ini masih bagian dari persahabatan. Ini masih sebuah lingkaran, walaupun ia memiliki awal dan akhir.”
Sunday, September 5, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment