Based on the real life, lol.
Lupakan klo pengen denger gue curhat.
yang jelas, terlepas dari kecintaan gue terhadap dunia tulis-menulis sejak SD. gue merasa cerita ini adalah start point gue, dimana gue mulai menulis dengan nggak asal-asalan.
yah waktu SMP sih gue sempet ngetik novel sepanjang 132 halaman (and Thanks God, datanya ilang. karena gue malu ketika membaca ulang novel itu, lol) tapi novel itu bener-bener cuma nulis iseng-iseng. okay, I don't wanna talk about it.
Anyway, the best part of this story, menurut gue, terletak di kawanan majas personifikasi (bahwa benda mati seakan bisa melakukan pekerjaan seperti orang hidup-red) yg terselip-selip di beberapa tempat. jadi kalau dipisah, si kumpulan personifikasi ini sendiri bisa dikaitkan jadi satu cerita sendiri (yang intinya sama, sebenarnya, tapi dalam gaya yang berbeda). Dan disinilah gue pertama kali mengidentifikasikan diri sebagai willow.
Hana Si Pohon Beringin
Kalau aku sebatang pohon beringin. Kamu adalah embusan angin.
Aku ingat betul perkataanku pada Bunga. Pernyataan itu terlontar begitu saja, sama seperti orang memberi pasangan hitam atas putih. Aku dan Bunga bersahabat sejak kami masuk SMA. Kami berdua cepat menjadi akrab setelah menemukan banyak persamaan, dari zodiak, selera pakaian, sifat, sampai nama. Aku adalah Hana, yang dalam bahasa Jepang berarti bunga. Dan dia adalah Bunga yang tetaplah berarti bunga. Walaupun banyak persamaan, kami bukanlah kembar siam ketemu gede, banyak juga perbedaan diantara kami. Misalnya, dia alto dan aku sopran, rambutnya lurus sementara aku keriting, dia IPA dan aku IPS.
Pohon beringin dan embusan angin, tadinya kupasangkan begitu karena angin tidak pernah lepas dari gerakan lembut akar beringin. Ia senang menjadi angin yang bebas. Aku senang dapat merasakan embusannya, namun tak kehilangan arah, karena pohon beringin tidak berpindah.
Aku teringat beberapa waktu lalu, ketika kami sedang berjalan melewati lapangan futsal sekolah. Nanda, teman kami, tertawa terbahak-bahak ketika melihat sesosok pemain yang asik menganggu temannya dengan gaya konyol. Aku mengerutkan dahiku, tak percaya ada makhluk sekonyol itu dalam lingkungan sekolah kami yang cenderung elit. Bunga tidak berkomentar apa-apa. Besoknya, ia memberitahuku bahwa orang yang kemarin kami tertawakan, Satria, sekelas dengannya dan dikabarkan suka pada Bunga. Aku hanya bisa nyengir dan mengangkat bahu, jadikan pengganjal pintu saja, kelakarku.
Tapi betapa aku terhempas karma. Aku melihat Satria dan tidak bisa melepaskan pandanganku darinya. Aku mendengar nama Satria dan ingin menambahkan namaku setelahnya. Ketika ia berdiri, aku ingin berada di sampingnya. Aku berkali-kali menampar diriku sendiri, Satria suka pada Bunga!
Nanda dan Bunga terbelalak heran waktu aku mengaku perasaaanku. Aku menyukai Satria. Nanda tidak habis pikir, sisi apa yang aku lihat dari cowok itu. Satria bukanlah cowok pandai, ia hanya piawai bermain futsal, walaupun termasuk jago olahraga, tubuh Satria termasuk kurus. Kemampuan matematikanya memang di atas rata-rata, tapi tidak menjadikan ia yang terbaik. Satria tidak memiliki wajah yang menawan, bahkan terkesan berantakan dan nakal. Nanda menyebutku sebagai bukti pernyataan ‘cinta itu buta’. Sementara Bunga hanya menarik napas panjang, berdecak heran sebelum menyarankan aku untuk melupakan Satria. He doesn’t worth it anyway.
Aku hanya bisa tersenyum pedih. Tak ada yang bisa kulakukan. Andai saja bisa berhenti disini seperti matahari yang akan terbenam pada saatnya. Sayangnya tidak segampang itu, perasaan bukan rutinitas yang dapat diatur seperti set alarm setiap pagi. Kalaupun aku bisa mengaturnya, Satria bukanlah orang yang ada dalam list pilihanku. Tapi toh bukan logika yang bertindak, melainkan hati.
Resiko perasaanku terlalu besar, terkadang aku merasa tak sanggup menghadapinya. Ini bukan hanya tentang menyukai seseorang dengan sepenuh hati, tanpa menuntut. Satria tidak pernah memandangku, atau bahkan menganggapku eksis. Padahal kami saling kenal, bahkan kami pernah saling bercanda. Aku menitikkan air mata ketika mendengar Clay Aiken menutup reffrain pertama single lawasnya dengan sendu, if I was invicible..wait, I already am.
Pohon beringin ini mencintai sehelai daun diseberang. Tapi ia tidak dapat menggapainya. Sementara angin terus menerus berhembus di sekitar daun itu sampai daun sederhana itu terpaku padanya. Namun angin terlalu bebas, ia tidak pernah berhenti untuk si daun kecil, seperti yang diinginkan daun itu.
Ketika aku masih berusaha tegar menghadapi kenyataan bahwa Satria tidak melihat aku,padahal aku dan bunga hampir-hampir tak terpisahkan. Aku juga adalah bunga, nama kami yang sama bahkan tak pernah memberiku kesempatan. Aku seperti berada dalam bayang-bayang, dan semakin aku memikirkannya, hatiku semakin sakit. Ketika kenyataan yang kejam itu masih menikmati penyiksaan terhadap batinku, Satria, tanpa ampun menghancurkan hatiku sekali lagi.
Alexandra, entah dari mana munculnya cewek ini, tiba-tiba dekat dengan Satria. Bahkan tak lama kemudian, mereka resmi berpacaran. Belum beres sakit hatiku karena cinta Satria pada Bunga, kini harus ditambah dengan api cemburu setiap kali Alexandra mengumbar kemesraan hubungan mereka. Jika rasa cintaku yang disebut-sebut sebagai cinta platonic sejati ini dapat kutarik keluar, maka akan kulempar ke Taman Safari supaya dicabik singa hingga tak berbentuk dan tak bisa direparasi kembali. Tapi aku sedang memikirkan kemungkinan untuk memberikan cinta gila ini pada guru sosiologi yang mata duitan, siapa tahu dia kekurangan cinta sesama manusia hingga tega mendahulukan segemerincing uang lima ratusan daripada remedial ulangan anak muridnya yang nilainya hancur-hancuran.
Aku membuat niat, menangis selama tiga hari pertama lalu kembali berdiri tegak dan menjaga perasaan yang sama. Mungkin dia akan berubah pikiran dan melihat aku sebagai Tuan Putri yang telah menunggu seratus tahun? Sayangnya niat ini gagal total, aku menangis selama tiga hari pertama, hari keempat dan seterusnya aku tidak menangis jika tidak melihat mereka berdua. Siapa yang tidak tahan, mereka bahkan mengukir cinta di tempat aku mengukir patah hatiku! Ah, terkadang hidup yang sempit ini begitu menyebalkan. Jika mereka harus bahagia, tolong jauhkan mereka dari aku yang dirundung sakit hati. Berkali-kali aku berusaha menutup luka ini dengan berteriak tragis ‘INGIN KUBUNUH PACARMU!’
Di saat seperti ini, Nanda bukanlah teman yang bisa diandalkan. Dia memang membenci kemunafikan dan hal itu sangat kusayangkan, karena ia tidak memasang topeng penghiburan untukku. Nanda selalu berdecak di kala aku menangis tragis, lalu ia menyuruhku melupakan Satria, kalau perlu membenci Satria. Semua dorongan ini didukung fakta bahwa Satria dan Alexandra adalah pasangan paling serasi di dunia, sampai-sampai seluruh manusia yang kami kenal mendoakan mereka bahagia. Sementara Bunga hanya bisa bungkam, takut menambahkan sakit hati, karena bagaimanapun ia pernah menjadi sebab aku menangis.
Kenyataan memang senang mempermainkan aku. Ketika aku menyerah pada semua argumen Nanda yang tajam dan berbalik mendoakan hubungan Satria dan Alexandra, mereka putus. Tak ada yang tahu kenapa. Aku sampai bingung, harus turut sedih atau terlonjak bahagia. Semua ini terlalu cepat, jika dapat digambarkan ke dalam lintasan pelari sprint, maka hatiku masih tertinggal di belakang karena terlalu banyak jatuh dan terluka, sementara pemenangnya yang tentu tersenyum bahagia tanpa
perlu menoleh ke belakang, pastilah kenyataan yang dilatih keras oleh coach sang waktu.
Aku menahan hatiku, mengikatnya erat di relung jantungku, aku tak ingin dia terlepas dan jatuh lagi. Tapi euforia melanda jiwaku yang kesepian, aku sedikit berharap bahwa kesempatanku akan datang. Cinta yang kukubur dalam-dalam kini mencuat kembali, bahkan kugantung tinggi supaya dia dapat bersemi. Sudah terlanjur, aku sekarang melayang lagi, terbang bersama angan dan mimpi untuk membawanya kembali.
Semakin tinggi aku terbang, semakin dalam aku terhempas. Bunga adalah alasan mengapa Satria dan Alexandra putus. Satria ingin kembali kepada Bunga, ia ingin merebut hati sahabatku itu. Bunga memang gadis yang baik, selain itu ia juga supel dan pintar. Tak heran jika banyak lawan jenis yang terpikat olehnya, tak terkecuali Satria.
Terlalu banyak disakiti oleh kenyataan, aku pun menjadi gelap mata. Bunga kuanggap terlalu meladeni Satria, padahal ia pernah bilang padaku bahwa ia hanya berbicara seperlunya. Aku pun bertindak seperti seorang detektif, kuperiksa inbox Bunga tanpa sepengetahuannya lalu betapa aku terkejut mendapati sms-sms Satria yang begitu perhatian. Satria bahkan rela duduk di depan supaya ia bisa berdekatan dengan Bunga.
Aku hancur sekali lagi. Mengapa Bunga tidak memberitahuku? Setidaknya aku tidak perlu terkurung dengan seribu pikiran buruk tentang mereka. Seorang teman bahkan mendatangiku dan bertanya apakah Bunga menyukai Satria. Semua orang menyangka begitu. Semua orang kecuali aku. Ternyata hanya aku yang terjebak di dalam kegelapan.
Separuh hati kecilku membela Bunga, mungkin ia takut aku marah padanya jika ia terlalu jujur tentang Satria. Bukankah gadis yang jatuh cinta dapat membawa neraka bagi orang ain hanya untuk meraih surganya? Akhirnya aku menyalahkan diriku sendiri, membenci perasaan yang jatuh tidak pada tempatnya, mengutuki cinta yang terlalu salah lalu lari dari kenyataan. Menjalankan sebuah babak drama tanpa hati.
Jika aku masih pohon beringin dan Bunga masih embusan angin. Sementara Satria masih sehelai daun yang ingin kugapai dengan rantingku. Angin telah meniupnya menjauh. Daun menikmati embusannya. Aku tertinggal di belakang, sepi dan kering.
Saat itu aku bertemu Gala, seorang teman dari masa lalu. Karena pola pikir kami yang mirip dan kodisi cinta platonic yang sama, kami pun segera menjadi dekat seperti dulu. Pertama-tama kami hanya membahas proyek komik yang kami kerjakan, lalu merambah ke filosofi-filosofi keren, sampai akhirnya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Gala adalah satu-satunya orang yang tidak tertawa atau bahkan berdecak kecewa saat aku bercerita. Ia tidak menempatkan diri sebagai orang yang lebih tahu, melainkan berdiri di sampingku seolah mengiringi langkahku yang tersendat, memberikan keberanian.
Bukan, Gala bukan orang yang akan menggantikan Satria. Nanda memang berpikir bahwa aku lebih baik menjalin hubungan serius dengan orang ini, tapi aku tidak pernah menanggapinya.
Gala dan aku bukan sepasang remaja, ketika kami sedang berdiskusi dan menikmati waktu, kami adalah dua spesies yang sama, kami memiliki jenis kelamin tersendiri. Dan karena kami sama-sama masih normal, maka kami tidak akan jatuh cinta pada sesama jenis.
Gala adalah orang yang menyadarkan aku, menamparku kembali ke dunia nyata, meninggalkan babak dramaku. Ia menyunggingkan senyum sinis ketika aku berkata bahwa Bunga adalah sahabatku. Sahabat tidak akan menyembunyikan fakta penting di balik punggung sahabatnya, sindirnya, ada tiga kemungkinan; dia bukan sahabatmu, dia tidak mengerti kamu, atau dia tidak tahu etika persahabatan jika ia melakukan hal itu. Aku masih berdiri di sisi Bunga, memaparkan rumitnya persahabatan antar wanita yang banyak berpikir menggunakan perasaan. Namun Gala tetap bertahan dengan dengusan meremehkan.
Aku tidak pernah mempermasalahkan sikap Gala, ia memang orang yang terlampau kritis dan idealis. Tapi ia menghargai impian dan mengimbanginya dengan logika, sesuatu yang tidak pernah aku gabungkan. Dan aku pun sudah kehabisan stok akal sehat pada saat itu. Aku bahkan tidak tahu yang mana wajah asliku, yang membela Bunga, yang marah kepada Bunga, yang pura-pura tidak tahu, atau mungkin
tidak ada?
Gala menganggap sikapku sebagai sesuatu yang idiot. Menyalahkan diri sendiri adalah hal terakhir yang mestinya dilakukan, setelah semua hal di dunia ini habis termakan waktu, tegas Gala. Ia meyakinkan aku akan hakku untuk marah dan cemburu. Apalagi kepada orang erdekatku yang seharusnya tahu apa yang dilakukan.
Pohon beringin tidak akan goyah. Sekeras apapun angin meniupnya. Akarnya kokoh menghujam ke tanah. Tapi tahukah engkau? Pohon beringin menyesali cengkeraman akarnya. Ia tidak dapat bergerak sedikitpun untuk menggapai sehelai daun yang ia cintai.
Karena dorongan Gala yang menegaskan posisiku sebagi korban, bukan pelaku. Dukungan Nanda yang benci melihatku sebagai pihak lemah yang terlalu sering mengalah dan redup. Dan keinginanku untuk membuktikan bahwa Bunga bukan orang yang picik. Akhirnya aku memutuskan untuk berbicara lagsung pada Bunga tentang kegundahanku yang lama kusimpan sendiri.
Tak berapa lama kemudian, seperti seorang gadis yang pertama kali jatuh cinta dan akan mengutarakan perasaannya, aku mendatangi Bunga dan berkata bahwa aku ingin bicara dengannya. Tanpa rasa curiga, ia mengikuti aku dan Nanda ke rumah Nanda yang terletak agak jauh dari sekolah. Padahal aku mati-matian menahan rasa takutku, mental pengecutku memang tak dapat diandalkan. Nanda berkali-kali meyakinkan aku bahwa tidak ada kesempatan lain yang lebih baik daripada hari itu, mau tidak
mau aku harus segera mengatakannya.Nanda berkali-kali meyakinkan aku bahwa tidak ada kesempatan lain yang lebih baik daripada hari itu, mau tidak mau aku harus segera mengatakannya.
Bunga tampak sedikit terkejut ketika aku bercerita. Ia mengaku tidak menyadari ‘niat terselubung’ Satria selama ini. Ia dan Nanda tercengang-cengang ketika aku menjelaskan batas-batas perasaanku pada Satria. Mereka berdua tidak pernah menjalani perasaan sedalam milikku.
Setelah banyak bertukar pikiran, Nanda menegaskan inti dari ceramah panjangku. Sebenarnya aku merasa Nanda tidak perlu melakukan ini, tapi ia menjawab bahwa jika memang Bunga adalah tipe orang yang tidak peka, hal itu merupakan poin yang penting.
Hari-hariku bukan lagi drama yang monoton, setidaknya aku telah mengurangi tingkat kepura-puraan yang pernah ada. Aku mengikuti saran Gala untuk menikmati perasaan yang kumiliki, apapun kenyataan yang membumbuinya. Aku harus bangga akan apa yang kurasakan karena tidak semua orang apat mencintai seperti aku. Dan benar saja, cinta yang pahit terasa lebih indah. Tolol, kata Nanda. Pemikirannya yang realis tidak menggapai nilai estetika perasaanku. Tapi siapa yang peduli?
Ketika daun kecil itu telah pergi terbawa angin dan pohon beringin masih berdiri anggun di tempatnya. Saat angin masih menari di antara mereka, menjadi bagian dari mereka namun terkadang melepas diri untuk berkelana. Adakah yang berpikir sampai kapan pohon beringin akan menanti?
Aku masih ingat ketika Nanda mempertanyakan perasaanku untuk yang kesekian kalinya. Ia tidak habis pikir, mengapa aku bertahan. Aku tidak memiliki alasan untuk mencintai dan mungkin memang tidak ada alasan untuk balik dicintai. Tapi toh aku tetap meneruskan perasaanku. Dengan kening
berkerut ia bertanya lagi.
Aku hanya menjawab singkat, bahwa aku tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan yang
meminta alasan mencintai tapi aku tahu apa yang aku cintai. Cukup satu kata, cukup satu nama. Tanpa mengurangi maupun menambahkan, apa yang dia punyai telah aku cintai dengan apa yang kumiliki.
Alis Nanda bertaut, tidak dapat mengerti. Berkali-kali ia mendengar jawaban yang tidak dapat diterima pikiran realisnya. Ia tahu betapa abstrak cinta manusia, tapi masih terkejut ketika melihat bagaimana cinta itu bekerja. Tentu saja melalui aku. Pelaku dan korban, subyek merangkup obyek dalam cerita ini.
Nanda akhirnya berhenti pada satu pertanyaan. Ia ingin aku menjawab jelas, konkrit dan nyata. Aku terpaku. Aku tidak pernah memikirkan pertanyaanya karena toh aku sedang menikmati rasanya dimabuk cinta.
Apayang bisa membuatku melupakan Satria?
Yang jelas bukan sakit hati, pikirku sejenak. Aku telah lama diterpa sakit hati yang sedemikian rupa namun tidak sedikitpun cintaku berkurang. Bahkan kenyataan bahwa orang -orang mungkin sedang menertawakan perasaanku di balik punggungku tidak membuatku goyah. Aku berdiri tegak, merengkuh cintaku dalam dekapan yang hangat. Hanya aku yang merasakannya, cukup aku saja.
Pohon beringin terdiam dalam sunyi. Angin telah membawa daun itu pergi. Tidak ada yang bisa ia lakukan, ia tahu pasti itu. Sekarang angin tidak lagi bertiup. Daun kecil itu tidak bergerak, malah semakin layu. Pohon beringin hanya bisa menangis pilu.
Aku menatap Nanda sekali lagi, memperhatikan air mata yang terus bergulir. Kali ini bukan aku yang menangis, Nanda erisak di depanku, bahunya naik turun seirama. Hari ini perasaanya luka, aku tahu pasti. Tapi aku masih tidak percaya.
Pikiranku melayang pada beberapas saat yang lalu. Aku dan Nanda berjalan memasuki sebuah kedai sederhana di dekat seklah kami. Kedai itu terkenal akan kelezatan masakannya dan Nanda ingin mencicipi sedikit untuk makan siang. Di dalam kedai ada Satria dan beberapa temannya, mereka berbisik-bisik ketika kami datang.
Aku sudah biasa dengan bisik-bisik di belakangku dan tidak menghiraukannnya. Tapi nampaknya Nanda agak terganggu dengan situasi itu, ia benci pengecut dan menurutnya, seorang cowok tidak pantas berbicara di belakang seperti itu. Ia melempar tatapan mengejek pada anak-anak yang duduk di salah
satu sudut kedai itu.
Rupanya perlakuan Nanda tidak dapat diterima oleh mereka. Ketika kami sedang asyik makan, secarik kertas jatuh ke atas meja kami. Di lembaran kertas itu terdapat karikatur seorang cewek, yang jelas dibuat asal-asalan dan beberapa kalimat kasar yang menghina.
Nanda geram, ia tahu kerikatur aneh tersebut menuju padanya. Dengan berani ia menghampiri meja Satria dan menunjukkan kertas itu di depan wajah mereka. Satria menghadapi Nanda dengan santai, ia menangapi kata-kata Nanda dan memberikan kebalikannya. Pada saat Nanda lengah, Satria mengisi sepi sejenak itu dengan ejekan-ejekan baru yang tidak pantas, bahkan cenderung keterlaluan. Cemoohan itu dianggap sebagai lelucon baru bagi teman-temannya, mereka segera riuh melontargan peluru-peluru dengki pada Nanda
Dan akhirnya, Nanda yang pertahanannya begitu kuat, jatuh berkeping-keping. Aku menghampiri mereka dan berkata bahwa tidak pantas untuk sekelompok cowok menindas seorang cewek yang bahkan tidak melakukan apa-apa. Mereka mencibir kecewa, Satria hanya mendengus kesal tanpa mengerling sedikitpun. Tanpa komando, mereka bubar dengan tertib.
Pohon beringin memandang daun yang layu. Air matanya sudah habis. Ia terus memperhatikan betapa daun itu tak berdaya sendirian, tanpa topangan dahannya. Pohon beringin tersenyum lirih. Habis sudah rasa cintanya. Dan bahkan angin tidak bertiup lagi untuk merayakannya.
Aku tahu betapa kekuatan mulut dapat membunuh, seperti ungkapan ‘fitnah lebih kejam dari pembunuhan’ yang biasa dilontarkan. Sahabatku baru saja ditikam oleh kata-kata dari orang yang aku cintai. Entah apa yang harus kulakukan, aku terhimpit dalam sesak, perasaan bersalah yang tidak dapat dijelaskan.
Setelah lama berkutat dalam diam, aku membuka mulut. Tanpa basa-basi aku mengulangi pertanyaan Nanda beberapa waktu lalu. Pertanyaan yang belum bisa kujawab pasti sampai hari ini. Apa yang bisa membuatku melupakan Satria?
Jawabannya adalah dia. Sahabatku sendiri. Dia yang terluka karena segelintir kata cercaan yang tidak berperasaan. Sakit hatiku dapat kuatasi sendiri, tapi luka hati sahabatku tidak dapat kuobati. Harus ada yang dikorbankan, hati dan pikiranku sepakat bahwa Satria tak lagi layak. Di bahkan tak mengenal cinta dengan sesama!
Nanda menatapku tak percaya. Aku balas menatap yakin. Tidak ada jalan yang lebih baik dari ini, aku tahu itu. Lagipula, melepas Satria seperti meninggalkan beban berat di pundakku.
Pohon beringin memanggil embusan angin, menyatakan betapa rindu dirinya. Angin menyahut bahwa ia takut berhembus disana, tak ingin menorehkan gresan pada batang beringin. Goresan membuat beringin menjadi lebih menakutkan, tapi juga lebih kuat. Pohon beringin tidak keberatan dengan goresan dan mungkin ia juga menginginkan angin meniup sehelai daun lebih jauh lagi darinya.
Aku bertemu Satria pagi ini. Tidak ada yang berubah dari penampilannya. Aku pun tidak segera memandang dia dengan sudut pandang merendahkan. Hanya saja, aku sedikit geli. Kisah cinta ku yang sepi diawali dengan persahabatan dan diakhiri dengan persahabatan.
Yang jelas, aku dan Satria tidak akan bisa terhanyut dalam persahabatan maupun percintaan. Ia telah berhasil menciptakan jarak dan sekarang aku mensyukuri jarak itu. Lalu aku berpaling dan meneruskan langkahku yang pernah terhenti. Waktuku telah mencair. Hatiku tidak lagi merintih.
Aku ingat betul perkataanku pada Bunga. Pernyataan itu terlontar begitu saja, sama seperti orang memberi pasangan hitam atas putih. Aku dan Bunga bersahabat sejak kami masuk SMA. Kami berdua cepat menjadi akrab setelah menemukan banyak persamaan, dari zodiak, selera pakaian, sifat, sampai nama. Aku adalah Hana, yang dalam bahasa Jepang berarti bunga. Dan dia adalah Bunga yang tetaplah berarti bunga. Walaupun banyak persamaan, kami bukanlah kembar siam ketemu gede, banyak juga perbedaan diantara kami. Misalnya, dia alto dan aku sopran, rambutnya lurus sementara aku keriting, dia IPA dan aku IPS.
Pohon beringin dan embusan angin, tadinya kupasangkan begitu karena angin tidak pernah lepas dari gerakan lembut akar beringin. Ia senang menjadi angin yang bebas. Aku senang dapat merasakan embusannya, namun tak kehilangan arah, karena pohon beringin tidak berpindah.
Aku teringat beberapa waktu lalu, ketika kami sedang berjalan melewati lapangan futsal sekolah. Nanda, teman kami, tertawa terbahak-bahak ketika melihat sesosok pemain yang asik menganggu temannya dengan gaya konyol. Aku mengerutkan dahiku, tak percaya ada makhluk sekonyol itu dalam lingkungan sekolah kami yang cenderung elit. Bunga tidak berkomentar apa-apa. Besoknya, ia memberitahuku bahwa orang yang kemarin kami tertawakan, Satria, sekelas dengannya dan dikabarkan suka pada Bunga. Aku hanya bisa nyengir dan mengangkat bahu, jadikan pengganjal pintu saja, kelakarku.
Tapi betapa aku terhempas karma. Aku melihat Satria dan tidak bisa melepaskan pandanganku darinya. Aku mendengar nama Satria dan ingin menambahkan namaku setelahnya. Ketika ia berdiri, aku ingin berada di sampingnya. Aku berkali-kali menampar diriku sendiri, Satria suka pada Bunga!
Nanda dan Bunga terbelalak heran waktu aku mengaku perasaaanku. Aku menyukai Satria. Nanda tidak habis pikir, sisi apa yang aku lihat dari cowok itu. Satria bukanlah cowok pandai, ia hanya piawai bermain futsal, walaupun termasuk jago olahraga, tubuh Satria termasuk kurus. Kemampuan matematikanya memang di atas rata-rata, tapi tidak menjadikan ia yang terbaik. Satria tidak memiliki wajah yang menawan, bahkan terkesan berantakan dan nakal. Nanda menyebutku sebagai bukti pernyataan ‘cinta itu buta’. Sementara Bunga hanya menarik napas panjang, berdecak heran sebelum menyarankan aku untuk melupakan Satria. He doesn’t worth it anyway.
Aku hanya bisa tersenyum pedih. Tak ada yang bisa kulakukan. Andai saja bisa berhenti disini seperti matahari yang akan terbenam pada saatnya. Sayangnya tidak segampang itu, perasaan bukan rutinitas yang dapat diatur seperti set alarm setiap pagi. Kalaupun aku bisa mengaturnya, Satria bukanlah orang yang ada dalam list pilihanku. Tapi toh bukan logika yang bertindak, melainkan hati.
Resiko perasaanku terlalu besar, terkadang aku merasa tak sanggup menghadapinya. Ini bukan hanya tentang menyukai seseorang dengan sepenuh hati, tanpa menuntut. Satria tidak pernah memandangku, atau bahkan menganggapku eksis. Padahal kami saling kenal, bahkan kami pernah saling bercanda. Aku menitikkan air mata ketika mendengar Clay Aiken menutup reffrain pertama single lawasnya dengan sendu, if I was invicible..wait, I already am.
Pohon beringin ini mencintai sehelai daun diseberang. Tapi ia tidak dapat menggapainya. Sementara angin terus menerus berhembus di sekitar daun itu sampai daun sederhana itu terpaku padanya. Namun angin terlalu bebas, ia tidak pernah berhenti untuk si daun kecil, seperti yang diinginkan daun itu.
Ketika aku masih berusaha tegar menghadapi kenyataan bahwa Satria tidak melihat aku,padahal aku dan bunga hampir-hampir tak terpisahkan. Aku juga adalah bunga, nama kami yang sama bahkan tak pernah memberiku kesempatan. Aku seperti berada dalam bayang-bayang, dan semakin aku memikirkannya, hatiku semakin sakit. Ketika kenyataan yang kejam itu masih menikmati penyiksaan terhadap batinku, Satria, tanpa ampun menghancurkan hatiku sekali lagi.
Alexandra, entah dari mana munculnya cewek ini, tiba-tiba dekat dengan Satria. Bahkan tak lama kemudian, mereka resmi berpacaran. Belum beres sakit hatiku karena cinta Satria pada Bunga, kini harus ditambah dengan api cemburu setiap kali Alexandra mengumbar kemesraan hubungan mereka. Jika rasa cintaku yang disebut-sebut sebagai cinta platonic sejati ini dapat kutarik keluar, maka akan kulempar ke Taman Safari supaya dicabik singa hingga tak berbentuk dan tak bisa direparasi kembali. Tapi aku sedang memikirkan kemungkinan untuk memberikan cinta gila ini pada guru sosiologi yang mata duitan, siapa tahu dia kekurangan cinta sesama manusia hingga tega mendahulukan segemerincing uang lima ratusan daripada remedial ulangan anak muridnya yang nilainya hancur-hancuran.
Aku membuat niat, menangis selama tiga hari pertama lalu kembali berdiri tegak dan menjaga perasaan yang sama. Mungkin dia akan berubah pikiran dan melihat aku sebagai Tuan Putri yang telah menunggu seratus tahun? Sayangnya niat ini gagal total, aku menangis selama tiga hari pertama, hari keempat dan seterusnya aku tidak menangis jika tidak melihat mereka berdua. Siapa yang tidak tahan, mereka bahkan mengukir cinta di tempat aku mengukir patah hatiku! Ah, terkadang hidup yang sempit ini begitu menyebalkan. Jika mereka harus bahagia, tolong jauhkan mereka dari aku yang dirundung sakit hati. Berkali-kali aku berusaha menutup luka ini dengan berteriak tragis ‘INGIN KUBUNUH PACARMU!’
Di saat seperti ini, Nanda bukanlah teman yang bisa diandalkan. Dia memang membenci kemunafikan dan hal itu sangat kusayangkan, karena ia tidak memasang topeng penghiburan untukku. Nanda selalu berdecak di kala aku menangis tragis, lalu ia menyuruhku melupakan Satria, kalau perlu membenci Satria. Semua dorongan ini didukung fakta bahwa Satria dan Alexandra adalah pasangan paling serasi di dunia, sampai-sampai seluruh manusia yang kami kenal mendoakan mereka bahagia. Sementara Bunga hanya bisa bungkam, takut menambahkan sakit hati, karena bagaimanapun ia pernah menjadi sebab aku menangis.
Kenyataan memang senang mempermainkan aku. Ketika aku menyerah pada semua argumen Nanda yang tajam dan berbalik mendoakan hubungan Satria dan Alexandra, mereka putus. Tak ada yang tahu kenapa. Aku sampai bingung, harus turut sedih atau terlonjak bahagia. Semua ini terlalu cepat, jika dapat digambarkan ke dalam lintasan pelari sprint, maka hatiku masih tertinggal di belakang karena terlalu banyak jatuh dan terluka, sementara pemenangnya yang tentu tersenyum bahagia tanpa
perlu menoleh ke belakang, pastilah kenyataan yang dilatih keras oleh coach sang waktu.
Aku menahan hatiku, mengikatnya erat di relung jantungku, aku tak ingin dia terlepas dan jatuh lagi. Tapi euforia melanda jiwaku yang kesepian, aku sedikit berharap bahwa kesempatanku akan datang. Cinta yang kukubur dalam-dalam kini mencuat kembali, bahkan kugantung tinggi supaya dia dapat bersemi. Sudah terlanjur, aku sekarang melayang lagi, terbang bersama angan dan mimpi untuk membawanya kembali.
Semakin tinggi aku terbang, semakin dalam aku terhempas. Bunga adalah alasan mengapa Satria dan Alexandra putus. Satria ingin kembali kepada Bunga, ia ingin merebut hati sahabatku itu. Bunga memang gadis yang baik, selain itu ia juga supel dan pintar. Tak heran jika banyak lawan jenis yang terpikat olehnya, tak terkecuali Satria.
Terlalu banyak disakiti oleh kenyataan, aku pun menjadi gelap mata. Bunga kuanggap terlalu meladeni Satria, padahal ia pernah bilang padaku bahwa ia hanya berbicara seperlunya. Aku pun bertindak seperti seorang detektif, kuperiksa inbox Bunga tanpa sepengetahuannya lalu betapa aku terkejut mendapati sms-sms Satria yang begitu perhatian. Satria bahkan rela duduk di depan supaya ia bisa berdekatan dengan Bunga.
Aku hancur sekali lagi. Mengapa Bunga tidak memberitahuku? Setidaknya aku tidak perlu terkurung dengan seribu pikiran buruk tentang mereka. Seorang teman bahkan mendatangiku dan bertanya apakah Bunga menyukai Satria. Semua orang menyangka begitu. Semua orang kecuali aku. Ternyata hanya aku yang terjebak di dalam kegelapan.
Separuh hati kecilku membela Bunga, mungkin ia takut aku marah padanya jika ia terlalu jujur tentang Satria. Bukankah gadis yang jatuh cinta dapat membawa neraka bagi orang ain hanya untuk meraih surganya? Akhirnya aku menyalahkan diriku sendiri, membenci perasaan yang jatuh tidak pada tempatnya, mengutuki cinta yang terlalu salah lalu lari dari kenyataan. Menjalankan sebuah babak drama tanpa hati.
Jika aku masih pohon beringin dan Bunga masih embusan angin. Sementara Satria masih sehelai daun yang ingin kugapai dengan rantingku. Angin telah meniupnya menjauh. Daun menikmati embusannya. Aku tertinggal di belakang, sepi dan kering.
Saat itu aku bertemu Gala, seorang teman dari masa lalu. Karena pola pikir kami yang mirip dan kodisi cinta platonic yang sama, kami pun segera menjadi dekat seperti dulu. Pertama-tama kami hanya membahas proyek komik yang kami kerjakan, lalu merambah ke filosofi-filosofi keren, sampai akhirnya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Gala adalah satu-satunya orang yang tidak tertawa atau bahkan berdecak kecewa saat aku bercerita. Ia tidak menempatkan diri sebagai orang yang lebih tahu, melainkan berdiri di sampingku seolah mengiringi langkahku yang tersendat, memberikan keberanian.
Bukan, Gala bukan orang yang akan menggantikan Satria. Nanda memang berpikir bahwa aku lebih baik menjalin hubungan serius dengan orang ini, tapi aku tidak pernah menanggapinya.
Gala dan aku bukan sepasang remaja, ketika kami sedang berdiskusi dan menikmati waktu, kami adalah dua spesies yang sama, kami memiliki jenis kelamin tersendiri. Dan karena kami sama-sama masih normal, maka kami tidak akan jatuh cinta pada sesama jenis.
Gala adalah orang yang menyadarkan aku, menamparku kembali ke dunia nyata, meninggalkan babak dramaku. Ia menyunggingkan senyum sinis ketika aku berkata bahwa Bunga adalah sahabatku. Sahabat tidak akan menyembunyikan fakta penting di balik punggung sahabatnya, sindirnya, ada tiga kemungkinan; dia bukan sahabatmu, dia tidak mengerti kamu, atau dia tidak tahu etika persahabatan jika ia melakukan hal itu. Aku masih berdiri di sisi Bunga, memaparkan rumitnya persahabatan antar wanita yang banyak berpikir menggunakan perasaan. Namun Gala tetap bertahan dengan dengusan meremehkan.
Aku tidak pernah mempermasalahkan sikap Gala, ia memang orang yang terlampau kritis dan idealis. Tapi ia menghargai impian dan mengimbanginya dengan logika, sesuatu yang tidak pernah aku gabungkan. Dan aku pun sudah kehabisan stok akal sehat pada saat itu. Aku bahkan tidak tahu yang mana wajah asliku, yang membela Bunga, yang marah kepada Bunga, yang pura-pura tidak tahu, atau mungkin
tidak ada?
Gala menganggap sikapku sebagai sesuatu yang idiot. Menyalahkan diri sendiri adalah hal terakhir yang mestinya dilakukan, setelah semua hal di dunia ini habis termakan waktu, tegas Gala. Ia meyakinkan aku akan hakku untuk marah dan cemburu. Apalagi kepada orang erdekatku yang seharusnya tahu apa yang dilakukan.
Pohon beringin tidak akan goyah. Sekeras apapun angin meniupnya. Akarnya kokoh menghujam ke tanah. Tapi tahukah engkau? Pohon beringin menyesali cengkeraman akarnya. Ia tidak dapat bergerak sedikitpun untuk menggapai sehelai daun yang ia cintai.
Karena dorongan Gala yang menegaskan posisiku sebagi korban, bukan pelaku. Dukungan Nanda yang benci melihatku sebagai pihak lemah yang terlalu sering mengalah dan redup. Dan keinginanku untuk membuktikan bahwa Bunga bukan orang yang picik. Akhirnya aku memutuskan untuk berbicara lagsung pada Bunga tentang kegundahanku yang lama kusimpan sendiri.
Tak berapa lama kemudian, seperti seorang gadis yang pertama kali jatuh cinta dan akan mengutarakan perasaannya, aku mendatangi Bunga dan berkata bahwa aku ingin bicara dengannya. Tanpa rasa curiga, ia mengikuti aku dan Nanda ke rumah Nanda yang terletak agak jauh dari sekolah. Padahal aku mati-matian menahan rasa takutku, mental pengecutku memang tak dapat diandalkan. Nanda berkali-kali meyakinkan aku bahwa tidak ada kesempatan lain yang lebih baik daripada hari itu, mau tidak
mau aku harus segera mengatakannya.Nanda berkali-kali meyakinkan aku bahwa tidak ada kesempatan lain yang lebih baik daripada hari itu, mau tidak mau aku harus segera mengatakannya.
Bunga tampak sedikit terkejut ketika aku bercerita. Ia mengaku tidak menyadari ‘niat terselubung’ Satria selama ini. Ia dan Nanda tercengang-cengang ketika aku menjelaskan batas-batas perasaanku pada Satria. Mereka berdua tidak pernah menjalani perasaan sedalam milikku.
Setelah banyak bertukar pikiran, Nanda menegaskan inti dari ceramah panjangku. Sebenarnya aku merasa Nanda tidak perlu melakukan ini, tapi ia menjawab bahwa jika memang Bunga adalah tipe orang yang tidak peka, hal itu merupakan poin yang penting.
Hari-hariku bukan lagi drama yang monoton, setidaknya aku telah mengurangi tingkat kepura-puraan yang pernah ada. Aku mengikuti saran Gala untuk menikmati perasaan yang kumiliki, apapun kenyataan yang membumbuinya. Aku harus bangga akan apa yang kurasakan karena tidak semua orang apat mencintai seperti aku. Dan benar saja, cinta yang pahit terasa lebih indah. Tolol, kata Nanda. Pemikirannya yang realis tidak menggapai nilai estetika perasaanku. Tapi siapa yang peduli?
Ketika daun kecil itu telah pergi terbawa angin dan pohon beringin masih berdiri anggun di tempatnya. Saat angin masih menari di antara mereka, menjadi bagian dari mereka namun terkadang melepas diri untuk berkelana. Adakah yang berpikir sampai kapan pohon beringin akan menanti?
Aku masih ingat ketika Nanda mempertanyakan perasaanku untuk yang kesekian kalinya. Ia tidak habis pikir, mengapa aku bertahan. Aku tidak memiliki alasan untuk mencintai dan mungkin memang tidak ada alasan untuk balik dicintai. Tapi toh aku tetap meneruskan perasaanku. Dengan kening
berkerut ia bertanya lagi.
Aku hanya menjawab singkat, bahwa aku tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan yang
meminta alasan mencintai tapi aku tahu apa yang aku cintai. Cukup satu kata, cukup satu nama. Tanpa mengurangi maupun menambahkan, apa yang dia punyai telah aku cintai dengan apa yang kumiliki.
Alis Nanda bertaut, tidak dapat mengerti. Berkali-kali ia mendengar jawaban yang tidak dapat diterima pikiran realisnya. Ia tahu betapa abstrak cinta manusia, tapi masih terkejut ketika melihat bagaimana cinta itu bekerja. Tentu saja melalui aku. Pelaku dan korban, subyek merangkup obyek dalam cerita ini.
Nanda akhirnya berhenti pada satu pertanyaan. Ia ingin aku menjawab jelas, konkrit dan nyata. Aku terpaku. Aku tidak pernah memikirkan pertanyaanya karena toh aku sedang menikmati rasanya dimabuk cinta.
Apayang bisa membuatku melupakan Satria?
Yang jelas bukan sakit hati, pikirku sejenak. Aku telah lama diterpa sakit hati yang sedemikian rupa namun tidak sedikitpun cintaku berkurang. Bahkan kenyataan bahwa orang -orang mungkin sedang menertawakan perasaanku di balik punggungku tidak membuatku goyah. Aku berdiri tegak, merengkuh cintaku dalam dekapan yang hangat. Hanya aku yang merasakannya, cukup aku saja.
Pohon beringin terdiam dalam sunyi. Angin telah membawa daun itu pergi. Tidak ada yang bisa ia lakukan, ia tahu pasti itu. Sekarang angin tidak lagi bertiup. Daun kecil itu tidak bergerak, malah semakin layu. Pohon beringin hanya bisa menangis pilu.
Aku menatap Nanda sekali lagi, memperhatikan air mata yang terus bergulir. Kali ini bukan aku yang menangis, Nanda erisak di depanku, bahunya naik turun seirama. Hari ini perasaanya luka, aku tahu pasti. Tapi aku masih tidak percaya.
Pikiranku melayang pada beberapas saat yang lalu. Aku dan Nanda berjalan memasuki sebuah kedai sederhana di dekat seklah kami. Kedai itu terkenal akan kelezatan masakannya dan Nanda ingin mencicipi sedikit untuk makan siang. Di dalam kedai ada Satria dan beberapa temannya, mereka berbisik-bisik ketika kami datang.
Aku sudah biasa dengan bisik-bisik di belakangku dan tidak menghiraukannnya. Tapi nampaknya Nanda agak terganggu dengan situasi itu, ia benci pengecut dan menurutnya, seorang cowok tidak pantas berbicara di belakang seperti itu. Ia melempar tatapan mengejek pada anak-anak yang duduk di salah
satu sudut kedai itu.
Rupanya perlakuan Nanda tidak dapat diterima oleh mereka. Ketika kami sedang asyik makan, secarik kertas jatuh ke atas meja kami. Di lembaran kertas itu terdapat karikatur seorang cewek, yang jelas dibuat asal-asalan dan beberapa kalimat kasar yang menghina.
Nanda geram, ia tahu kerikatur aneh tersebut menuju padanya. Dengan berani ia menghampiri meja Satria dan menunjukkan kertas itu di depan wajah mereka. Satria menghadapi Nanda dengan santai, ia menangapi kata-kata Nanda dan memberikan kebalikannya. Pada saat Nanda lengah, Satria mengisi sepi sejenak itu dengan ejekan-ejekan baru yang tidak pantas, bahkan cenderung keterlaluan. Cemoohan itu dianggap sebagai lelucon baru bagi teman-temannya, mereka segera riuh melontargan peluru-peluru dengki pada Nanda
Dan akhirnya, Nanda yang pertahanannya begitu kuat, jatuh berkeping-keping. Aku menghampiri mereka dan berkata bahwa tidak pantas untuk sekelompok cowok menindas seorang cewek yang bahkan tidak melakukan apa-apa. Mereka mencibir kecewa, Satria hanya mendengus kesal tanpa mengerling sedikitpun. Tanpa komando, mereka bubar dengan tertib.
Pohon beringin memandang daun yang layu. Air matanya sudah habis. Ia terus memperhatikan betapa daun itu tak berdaya sendirian, tanpa topangan dahannya. Pohon beringin tersenyum lirih. Habis sudah rasa cintanya. Dan bahkan angin tidak bertiup lagi untuk merayakannya.
Aku tahu betapa kekuatan mulut dapat membunuh, seperti ungkapan ‘fitnah lebih kejam dari pembunuhan’ yang biasa dilontarkan. Sahabatku baru saja ditikam oleh kata-kata dari orang yang aku cintai. Entah apa yang harus kulakukan, aku terhimpit dalam sesak, perasaan bersalah yang tidak dapat dijelaskan.
Setelah lama berkutat dalam diam, aku membuka mulut. Tanpa basa-basi aku mengulangi pertanyaan Nanda beberapa waktu lalu. Pertanyaan yang belum bisa kujawab pasti sampai hari ini. Apa yang bisa membuatku melupakan Satria?
Jawabannya adalah dia. Sahabatku sendiri. Dia yang terluka karena segelintir kata cercaan yang tidak berperasaan. Sakit hatiku dapat kuatasi sendiri, tapi luka hati sahabatku tidak dapat kuobati. Harus ada yang dikorbankan, hati dan pikiranku sepakat bahwa Satria tak lagi layak. Di bahkan tak mengenal cinta dengan sesama!
Nanda menatapku tak percaya. Aku balas menatap yakin. Tidak ada jalan yang lebih baik dari ini, aku tahu itu. Lagipula, melepas Satria seperti meninggalkan beban berat di pundakku.
Pohon beringin memanggil embusan angin, menyatakan betapa rindu dirinya. Angin menyahut bahwa ia takut berhembus disana, tak ingin menorehkan gresan pada batang beringin. Goresan membuat beringin menjadi lebih menakutkan, tapi juga lebih kuat. Pohon beringin tidak keberatan dengan goresan dan mungkin ia juga menginginkan angin meniup sehelai daun lebih jauh lagi darinya.
Aku bertemu Satria pagi ini. Tidak ada yang berubah dari penampilannya. Aku pun tidak segera memandang dia dengan sudut pandang merendahkan. Hanya saja, aku sedikit geli. Kisah cinta ku yang sepi diawali dengan persahabatan dan diakhiri dengan persahabatan.
Yang jelas, aku dan Satria tidak akan bisa terhanyut dalam persahabatan maupun percintaan. Ia telah berhasil menciptakan jarak dan sekarang aku mensyukuri jarak itu. Lalu aku berpaling dan meneruskan langkahku yang pernah terhenti. Waktuku telah mencair. Hatiku tidak lagi merintih.


No comments:
Post a Comment